6 Masalah Ibu Hamil Di Indonesia, Ibu Hamil Harus Tau!

0
39
Masalah Ibu Hamil Di Indonesia

Masalah Ibu Hamil Di Indonesia – Halo apa kabar ibu hamil? Mudah-mudahan dalam keadaan sehat selalu ya dan lancar dalam menjalani kehamilan. Ibu hamil semua pasti selalu mengalami kendal mdalam masa kehamilannya baik dimulai dari trimester pertama, trimester kedua sampai trimester ketiga.

Banyak sekali permasalalah ibu hamil diantara masalah dalam asupan makanan, nutrisi, vitamin, gaya hidup dsb. Bagaimana dengan permasalahan ibu hamil di Indonesia apakah semua permasalahannya akan sama antara ibu hamil yang ada di Indonesia?

Badan kesehatan dunia atau WHO memperkirakan, ada sektiar 500 ribu ibu hamil meninggal setiap tahunnya, terutama di negara berkembang. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 juga mengungkap, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tertinggi di Asia.

6 Masalah Ibu Hamil Di Indonesia

  • Pendarahan

Pendarahan pada awal kehamilan perlu diwaspadai karena dapat menjadi ancaman keguguran. Kalau mengalami pendarahan hebat, diikuti dengan kram perut, atau disertai keluarnya darah beku jaringan fetus, maka kemungkinan sang ibu mengalami keguguran,” ujar Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Rumah Sakit Pondok Indah, Azen Salim, dalam acara Anenatal Care, di Jakarta.

  • Ketuban Pecah

Menjelang kelahiran, biasanya ibu akan mengalami air ketuban pecah yang terjadi beberapa jam sebelum persalinan atau pada saat persalinan. Umumnya air ketuban pecah jika usia kehamilan sudah mencapai 37 minggu.

Namun pada beberapa kasus, air ketuban pecah sebelum waktunya (pada usia kehamilan di bawah 37 minggu) atau yang dikenal dengan Ketuban Pecah Dini (KPD). Kasus kegawatdaruratan ini disebabkan karena infeksi saluran reproduksi, seperti keputihan, saluran kencing, maupun infeksi kuman penyakit lain yang dapat menjadi pemicu kelahiran prematur.

  • Preeklamsia

Preeklamsia adalah gangguan kehamilan yang sangat serius dan memengaruhi sekitar lima persen populasi wanita hamil. Anda akan dikatakan preeklamsia jika tekanan darah tinggi dan kadar protein dalam urin atau ginjal abnormal setelah usia kehamilan 20 minggu. Preeklamsia bisa terjadi dan berkembang dengan cepat, membahayakan organ-organ penting tubuh bahkan bisa mengancam nyawa. Tapi, dengan pemeriksaan teratur dan penanganan yang tepat dari dokter, banyak ibu yang bisa melahirkan dengan lancar setelah didiagnosa preeklamsia. Wanita dengan preeklamsia yang parah, umumnya diminta oleh dokter untuk melahirkan dini atau sebelum waktunya.

  • Kurang cairan ketuban  (oligohidramnion)

Kantung ketuban berisi cairan yang melindungi dan mendukung perkembangan janin di dalam rahim. Ketika jumlah cairan ini terlalu sedikit, itu disebut oligohidramnion. Ada sekitar empat persen wanita hamil memiliki cairan ketuban yang jumlahnya kurang memadai di beberap titik, biasanya ini dialami pada trimester ketiga kehailan. Jika ini terjadi pada Anda, dokter akan mengikuti perkembangan kehamilan Anda dengan lebih cermat untuk memastikan bayi tumbuh normal. Saat mendekati waktu persalinan, dokter akan melihat, apakah nanti persalinan Anda perlu diinduksi atau tidak. Pada beberapa kasus yang berat, dokter terpaksa akan mengeluarkan bayi sebelum waktunya.

  • Faktor pelayanan kesehatan (PAPUA)

Data yang dilansir oleh SKKI (2013) menunjukkan bahwa Provinsi Papua memiliki rasio dokter umum per 100.000 penduduk yang rendah yakni 22,2 dibandingkan rata-rata yakni 33,3 per 100.000 penduduk. Hasil ini juga belum mencapai target yakni 40 per 100.000 penduduk, namun menariknya rasio bidan per 100.000 penduduk di Papua justru telah mencapai target dan jauh diatas rata-rata rasio bidan di Indonesia. Papua memiliki rasio bidan sebesar 105,7 sedangkan rata-rata rasio bidan di Indonesia 55,1 dengan target 100 per penduduk. Artinya,penduduk di Papua khususnya para ibu seharusnya sudah cukup terliputi untuk melakukan proses kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan terutama bidan.
Data yang dilansir oleh Kemenkes RI (2015) pula menunjukkan bahwa Provinsi Papua sendiri memiliki rasio puskesmas 3,39 per 30.000 ini terlampau tinggi bila dibandingkan rata-rata rasio puskesmas di Indonesia yang hanya 1,16. Artinya seharusnya masyarakat Papua dapat mempergunakan puskesmas sebagai sarana kesehatan khususnya proses kelahiran ibu hamil.
  • Faktor lingkungan (PAPUA)

Dari data yang disajikan pada Gambar 3. Didapati bahwa perempuan yang tinggal di perkotaan akan memiliki tendensi untuk melakukan proses melahirkan difasilitas kesehatan. Salah satu intervensi yang paling penting untuk menyelamatkan ibu adalah transportasi yang tersedia ke fasilitas rujukan untuk perawatan kebidanan dalam keadaan darurat.
RKPD Papua (2010) melaporkan adanya permasalahan pada sektor transportasi dimana kondisi geografis Papua yang terdiri dari pesisir, pegunungan dan dataran membuat jaringan transportasi belum mencakup sepenuhnya, pula tingginya biaya transportasi, rendahnya kualitas dan kuantitas ketersediaan sarana dan prasarana, khususnya untuk jalan dan jembatan daerah pedesaan, serta kurangnya keterpaduan transportasi antarmoda transportasi darat, laut, sungai, dan udara yang belum memadai membuat transportasi di Papua belum berjalan optimal.
Nah, itu beberapa permasalahan yang dialami ibu hamil yang ada di Indonesia, mudah-mudahan semua permasalah tersebut tidak dialami oleh ibu-ibu hamil di Indonesia, kalaupun ada semoga cepat dan mudah tertangani, semoga bermanfaat. Terimakasih…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here